Menu
Belajar Bahasa Arab Indonesia

Pembahasan Bismillah dalam Perspektif Ilmu Nahwu

  • Bagikan
Bismillah dalam Ilmu Nahwu
Bismillah dalam Ilmu Nahwu

Setelah sebelumnya membahas tentang mabadi asyrah (baca: Mabadi Asyrah – 10 Prinsip Dasar Ilmu Nahwu), maka dalam postingan kali ini Bahasaarab.ID akan membahas lafaz basmallah atau bismillahirrahmanirrahim dilihat dari sudut pandang ilmu nahwu.

Biasanya, pembahasan bismillah dalam persfektif ilmu nahwu ini akan dikaji oleh santri ketika akan memulai mengaji fan ilmu nahwu. Sebab setiap orang yang akan mengkaji suatu ilmu dianjurkan untuk membahas bismillah terlebih dahulu yang berkaitan dengan sudut pandang ilmu yang akan dipelajarinya. Walaupun pembahasan tersebut mungkin hanya pembahasan singkat saja, tapi dianjurkan untuk dilaksanakan.

Setidaknya ada 4 manfaat yang bisa dicapai dengan membahas bismillah ini.

  • Untuk memenuhi hak bismillah
  • Untuk memenuhi hak ilmu yang dipelajari
  • Supaya tidak termasuk orang yang gegabah
  • Supaya keberkahan bismillah kembali kepada ilmu yang dipelajari

Pembahasan Bismillah dalam Perspektif Ilmu Nahwu

Pembahasan bismillah dalam perspektif ilmu nahwu terfokus pada beberapa bahasan, yakni lafaz “ba”, lafaz “ismu”, lafaz “Allah”, lafaz “ar-Rahman” dan lafaz “ar-Rahim”.

1. Ba (ب)

Ada tiga hal yang bisa dibahas dari ba (ب) lafaz bismillah jika dilihat dari sudut pandang ilmu nahwu. Pertama berkaitan dengan harakatnya, kedua maknanya, dan ketiga muta’allaqnya.

– Harakat ba (ب)

Dilihat dari sudut pandang nahwu, ba (ب) merupakan kalimat huruf. Sedangkan huruf hukum asalnya adalah mabni. Sedangkan hukum asal mabni adalah sukun. Sehingga ba (ب) seharusnya berharakat sukun.

وَكُلُّ حَرْفٍ مُسْتَحِقٌّ لِلْبِنَاء * وَالأصْلُ فِى المَبْنِيِّ انْ يُسَكَّنَ

“Setiap huruf adalah mabni, sedangkan asal dari mabni adalah sukun” (Alfiyyah Ibn Malik).

Tapi kenapa ba (ب) dalam bismillah berharakat kasrah?

Sebagaimana huruf lainnya, Ba (ب) mulanya sukun, atau bisa dianggap tidak berharakat baik fathah, kasrah atau dlommah. Tapi karena dalam bismillah ia berada di awal kata, maka terpaksa ia harus diberi harakat. Sebab akan sulit mengucapkan huruf sukun yang ada di awal kata bila tidak diberi harakat.

Lantas kenapa ba (ب) dalam bismillah diberi harakat kasrah, ada beberapa pendapat yang menjelaskan. Pertama karena مُنَاسَبَة لِعَمَلِهِ, artinya menyesuaikan dengan amalnya ba (ب). Yang mana ba (ب) merupakan huruf jar. Sehingga ba (ب) diberi harakat kasrah.

Kedua, karena ada kaidah لأنَّ حَرْفَ السَّاكِنِ إذا تُحُرِّكَ حُرِّكَ بالكَسْرِ, artinya huruf sukun ketika hendak diberi harakat maka diharakti dengan harakat kasrah. Sehingga ba (ب) dalam bismillah diberi harakat kasrah.

Namun, kaidah-kaidah diatas yang berkaitan dengan harakat kasrah tidak selalu muttorid (sesuai) dengan fakta yang ada. Tapi ini adalah termasuk qowaid ghair muttorid (tidak sesuai) dengan fakta yang ada, dalam arti terkadang berlaku terkadang tidak berlaku.

– Makna ba (ب)

Ba (ب) merupakan huruf. Sedangkan huruf itu terbagi 2. Pertama, ada huruf mabani, yakni huruf-huruf yang tidak memiliki makna. Contohnya adalah huruf hijaiyyah yang biasa dipakai untuk merangkai kalimat huruf per huruf.

Ada pula huruf ma’ani, yakni huruf-huruf yang memiliki makna. Yakni huruf-huruf yang merupakan bagian dari kalimat/kalam sebagaimana halnya kalimat isim dan fi’il.

Dan ba (ب) dalam bismillah merupakan huruf ma’ani, atau huruf yang memiliki makna/arti.

Dalam kitab Alfiyyah Ibnu Malik, ada 10 makna yang bisa dimiliki oleh ba (ب).

وَزِيدَ وَالظَّرْفِيَّةَ اسْتَبِنْ بِبا # وَفي وَقَدْ يُبَيِّنَانِ السَّبَبَا
بِالْبَا اسْتَعِنْ وَعَدِّ عَوِّضْ ألْصِقِ # وَمِثْلَ مَعْ وَمِنْ وَعَنْ بَهَا انْطِقِ

“…Dan jelaskanlah makna zhorfiyyah dengan “ba” dan “fii”. Dan terkadang keduanya menjelaskan makna sababiyyah.”

“Dengan ba jadikan makna istianah, ta’diyyahkan, tunjukkan makna ta’widh, dan buat makna ilshaq. Katakanlah dengan memakai ba makna seperti ma’a, min, dan ‘an.”

Adapun rincian 10 makna ba tersebut adalah sebagai berikut:

  • Zharfiyyah (pada waktu), contohnya seperti dalam al-Qur’an surat Ash-Shaffat 137-138

وَإنّكُمْ لتَمُرُّوْنَ عَليْهِمْ مُصْبِحِيْنَ وَباللّيْلِ

“Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk mekah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi, dan di waktu malam“.

  • Sababiyyah (sebab), contohnya seperti dalam al-Qur’an surat An-Nisa ayat 160:

فَبِظُلْمٍ مِّنَ ٱلَّذِينَ هَادُوا۟ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَٰتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ كَثِيرًا

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah”.

  • Isti’anah (dengan sarana/dengan bantuan), contohnya:

كَتبْتُ بالقَلَمِ

“Aku menulis dengan (sarana/bantuan) pena”. atau,

  • Ta’diyyah (menghadirkan objek), contohnya dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 17:

ذهَبَ اللهُ بِـنُوْرِهِمْ

“Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka.”

  • Makna Ta’wid (Menggantikan)

شْتَرَيْتُ الفرَسَ بألفِ دِرْهَمٍ

“Saya membeli kuda (digantikan) dengan 1000 dirham”.

  • Makna Ilshoq (Menempel). Ilshoq terbagi menjadi 2:
    • Ilshoq Haqiqi : إلصَاقُ مَا قبْلَ البَاء بمَا بَعْدَهَا .
      Yaitu menempelkannya sesuatu sebelum بَ kepada setelahnya. Contohnya: قطعْتُ بالسِّكِيْنِ
      “Saya memotong dengan pisau”.
    • Ilshoq Majazi : إلصَاقُ مَا قبْلَ البَاءِ بمُجَاوِرِ مَا بَعْدَهَا .
      Yaiitu menempelkannya sesuatu sebelum بَ dengan melewati sesuatu yang ada setelahnya. Contohnya:
      مَرَرْتُ بزَيْدٍ
      “Saya melewati Zaid.”
  • Makna مَعَ

بعْتُكَ الثَّوْبَ بطِرَازِهِ

Takdirnya, مَعَ طِرَازِهِ. Artinya “Saya menjual kepada anda baju beserta kancingnya”.

  • Makna مِنْ

Contoh dalam Syair,

شَرِبْنَ بمَاءِ البَحْرِ ثُمَّ ترَفِّعَتْ * مَتَى لُجَجٍ خُضْرٍ لهُنَّ نئِيْجُ

Taqdirnya, مِنْ مَّاءِ البَحْرِ

  • Makna عَنْ

Contohnya dalam al-Qur’an:

( سَأَلَ سَائِلٌ بِعَذَابٍ وَاقِعٍ (المعارج : 1

Taqdirnya, عَنْ عَذابٍ
Artinya, Seseorang telah meminta jauh dari azab yang tejadi.

  • Makna Badaliyyah (Pengganti)

Contoh: مَا يَسُرُّنِيْ بهَا حُمْرُ النِّعَم Taqdirnya: بَدَلهَا

Artinya, “Hewan ternak yang merah (baik kondisinya) pun tidak akan membahagiakan kami sebagai pengganti kebahagiaan akhirat”.

Syekh Ibnu Malik dalam Kitabnya :

لِلإنتِهَا حَتى وَلامٌ وَإلى * وَمِنْ وَبَاءٌ يُفهِمَانِ بَدَلا

Artinya, “Intiha (mengakhiri) adalah makna untuk hattaa, lam, dan ilaa, dan dapat difahami bahwa huruf min dan ba mempunyai makna Badaliyah (Pengganti)”.

– Muta’allaq Ba

  • Bagikan